Konsep gubahan
massa bangunan dirancang mengikuti pengelompokan fungsi yang ada yaitu
penempatan massa yang memudahkan jalur lintas kendaraan, dimana bangunan utama
di posisikan di depan dan tepat berada pada tengah site lokasi, sehingga jalur
lintas kendaraan dapat melintas di sisi samping bangunan utama. Bentuk bangunan
di rancang dengan mengedepankan fungsi
perencanaan bangunan.
Sedangkan parkir
kendaraan ditempatkan di belakang bangunan utama, agar kegiatan pengguna
bangunan yang utama dapat befungsi dengan baik. Adapun alasan mengapa sirkulasi
parkir kendaraan umu ditempatkan di belakang bangunan utama yaitu agar kesan
perencanaan pembangunan terminal di Mereudeu lebih terlihat rapi dari depan.
Massa pendukung bangunan
ditempatkan paling belakang agar massa belakang site tidak terlupakan oleh
pengguna bangunan, sehingga semua site dapat terexpos dengan menyeluruh.




Menurut
Setyo Soetiadji (Soetiadji S, 1986) orientasi adalah “suatu posisi relatif
suatu bentuk terhadap bidang dasar, arah mata angin, atau terhadap pandangan seseorang
yang melihatnya. Dengan berorientasi dan kemudian mengadaptasikan situasi dan
kondisi setempat, bangunan kita akan menjadi milik lingkungan.
Jenis
orientasi menurut Setyo Soetiadji adalah :
- Orientasi
terhadap garis edar matahari yang merupakan suatu bagian yang elemen
penerangan alami. Namun pada daerah beriklim tropis penyinaran dalam
jumlah yang berlebihan akan menimbulkan suatu masalah, sehingga diusahakan
adanya elemen-elemen yang dapat mengurangi efek terik matahari.
- Orientasi
pada potensi-potensi terdekat, merupakan suatu orientasi yang lebih bernilai
pada sesuatu, bangunan dapat mengarah pada suatu tempat atau bangunan
tertentu atau cukup dengan suatu nilai orientasi positif yang cukup membuat
hubungan filosofisnya saja.
- Orientasi
pada arah pandang tertentu, yang biasanya mengarah pada potensipotensi yang
relatih jauh, misalnya arah laut, atau pemandangan alam.
Akibat dari
adanya pengaruh orientasi terhadap sesuatu, menyebabkan bangunan harus dapat
mengantisipasi hal-hal negatif yang berkaitan dengan masalah fisika bangunan antara lain masalah
thermal, tampias air hujan, silau dan lain sebagainya. Matahari menimbulkan
gangguan dari panas dan silau cahayanya (Wijaya, 1988). Perlindungan yang dapat
dilakukan untuk mengantisipasi masalah tersebut dapat digunakan beberapa cara,
adapun cara yang dapat dilakukan antara lain dengan cara prinsip-prinsip
pembayangan dan filterasi/penyaringan cahaya. Cara pematahan sinar matahari
dengan sistem pembayangan dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu :
·
Garis edar matahari
·
Kondisi lingkungan setempat
·
Bentuk bangunan
·
Fungsi bangunan.
Namun fungsi
bayangan (shading) itu sendiri di dalam arsitektur tidak hanya sebagai
cara antisipasi terhadap matahari, tetapi juga merupakan upaya untuk
- Membentuk
suatu karakteristik bangunan.
- Komunikasi
visual
- Menimbulkan
efek psikologis.
Orientasi
banguan yang paling optimum di semua daerah iklim adalah memanjang dari arah
timur ke barat dan untuk daerah tropis lembab proporsi yang optimum antara
lebar dan panjang adalah 1 :1,7 dan proporsi yang bagus adalah 1:3 Gambar 2.6.
(M. David Egan, Konsep-Konsep dalam Kenyamanan Thermal, Alih Bahasa oleh
Rosalia Niniek Srilestari ).
Orientasi
yang dimaksud didalam penelitian ini adalah orientasi dalam kaitannya dengan
posisi bukaan bangunan dimana posisi dan luar bukaan akan mempengaruhi jumlah
radiasi sinar matahari yang masuk kedalam bangunan. Hal ini berarti bahwa luas
dan posisi bukaan akan mempengaruhi kemampuan bangunan dalam menahan panas.
Arsitektur Tropis
adalah suatu konsep bangunan yang mengadaptasi kondisi iklim tropis. Letak
geografis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa membuat Indonesia
memiliki dua iklim, yakni kemarau dan penghujan. Pada musim kemarau suhu udara
sangat tinggi dan sinar matahari memancar sangat panas. Dalam kondisi ikim yang
panas inilah muncul ide untuk menyesuaikannya dengan arsitektur bangunan gedung
Terminal Terpadu di Mereudue yang dapat memberikan kenyamanan bagi penghuninya.
Ciri-ciri iklim
tropis kering:
·
Kelembaban rendah
·
Curah hujan rendah
·
Radiasi panas langsung tinggi
·
Suhu udara pada siang hari tinggi dan
pada malam hari rendah (45o dan -10oCelcius)
·
Jumlah radiasi maksimal, karena tidak
ada awan.
·
Pada malam hari berbalik dingin karena
radiasi balik bumi cepat berlangsung (cepat dingin bila dibandingkan tanah
basah/lembab).
·
Menjelang pagi udara dan tanah
benar-benar dingin karena radiasi balik sudah habis. Pada siang hari radiasi
panas tinggi dan akumulasi radiasi tertinggi pukul 15.00. Sering terjadi badai
angin pasir karena dataran yang luas.
·
Pada waktu sore hari sering terdengar
suara ledakan batu-batuan karena perubahan suhu yang tiba-tiba drastis.
Strategi untuk membuat ruangan didalam lebih nyaman
pada iklim tropis yaitu :
|
|
|
|
|

Konsep kenyamanan ruang dalam pada ruang kantor pada
pembangunan Terminal Terpadu di Mereudu yaitu mengatasi keadaan iklim tropis
yang ada pada site perencanaan. Bukaan jendela pada bangunan lebih kecil agar
cahaya yang masuk ke dalam ruangan tidak terlalu berlebihan, dan penempatan
jendela lebih banyak pada titik arah Utara dan Selatan. Hal ini bertujuan agar
sumber cahaya yang datang dari titik arah Timur dan barat tidak terlalu
menggagu sirkulasi udara dan kenyamanan pada ruangan bangunan.

Penempatan
tanaman pada ruangan yang memiliki dinding terbuka merupakan suatu strategi
yang bertujuan untuk membuat ruangan dalam yang terbuka tidak terlalu panas dan
juga membuat keindahan yang lebih pada ruangan dalam yang terbuka.

Tujuan
meletakan air mancur pada taman ruang dalam terbuka pada perencanaan Terminal
Terapadu di mereudu adalah supaya menambah kelembaban ruang yang dibawa angin
panas pada saat suhu panas menjadi sejuk, sehingga membuat kenyamanan bagi
penghuni di dalam ruangan.

![]() |
|||
![]() |
|||




Ruang mempunyai arti penting bagi kehidupan manusia.
Ruang tidak dapat dipisahkan dal kehidupan manusia baik secara psikologis emosional
(persepsi), maupun dimensional.
Imanuel Kent berpendapat bahwa Ruang bukanlah
sesuatu yang obyektif atau nyata, tetapi merupakan sesuatu yang subyektif
sebagai hasil pikiran dan perasaan manusia.
Sedangkan Plato berpendapat bahwa Ruang adalah suatu
kerangka atau wadah dimana obyek dan kejadian tertentu berada.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Ruang adalah
Suatu wadah yang tidak nyata akan tetapi dapat dirasakan oleh manusia. Perasaan
persepsi masing-masing individu melalui penglihatan, penciuman, pendengaran dan
penafsirannya.
Untuk menyatakan bentuk dunianya, manusia
menciptakan ruang tersendiri dengan dasar fungsi dan keindahan yang disebut
Ruana Arsitektur.
Ruang Arsitektur menyangkut
- Ruang
Dalam
- Ruang
Luar
Pada Umumnya dikatakan bahwa Ruang Dalam (interior)
dibatasi oleh tiga bidang, yaitu alas / lantai, dinding dan langit-langit /
atap. Hanya perlu diingat bahwa dalam beberapa hal, ruang dalam sukar untuk
dibedakan tiga bidang pembatas yang terjadi, misalnya pada konstruksi shell
karena dinding dan atap menjadi satu.
Sedangkan Ruang Luar
adalah
·
Ruang yang terjadi dengan membatasi alam
hanya pada bidang alas dan dindingnya, sedangkan atapnya dapat dikatakan tidak
terbatas.
·
Sebagai Iingkungan luar buatan manusia,
yang mempunyai arti dan maksud tertentu dan sebagain bagian dari alam.
·
Arsitektur tanpa Atap, tetapi dibatasi
oleh dua bidang : lantai dan dinding atau ruang yang terjadi dengan menggunakan
dua elemen pembatas. Hal ini menyebabkan bahwa lantai dan dinding menjadi
elemen penting di dalam merencanakan ruang luar.
1.
Ruang
Mati
Pengertian dari Ruang Hidup adalah bentuk yang benar
dalam hubungannya dengan ruang-ruang yang bermutu untuk berkomposisi dengan
struktur yang direncanakan dengan balk. Harus ada hubungannya dengan karakter,
massa dan fungsi dari struktur-struktur seperti itu.
Dari pengertian di atas ini Ruang Mati (death space)
dapat disimpulkan sebagai kebalikan daripada ruang hidup, yaitu “Ruang yang terbentuk dengan tidak
direncanakan, tidak terlingkup dan tidak dapat digunakan dengan balk (ruang
yang terbentuk tidak dengan disengaja atau ruang yang tersisa). Ruang Mati bila
kita lihat merupakan ruang yang terbuang percuma. Ruang tersebut tanggung bila
digunakan untuk suatu kegiatan. Sebab terjadinya tidak direncanakan.
Pada gambar 4.7. di bawah diperlihatkan mengenai
Ruang Mati yang terbentuk karena bangunan diletakkan tidak ditengah dan tidak
juga di tepi, sehingga ruang yang tersisa hanya sedikit.



Ruang mati dapat pula terjadi karena adanya ruang
yang terbentuk antara 2 atau Iebih bangunan, yang tidak direncanakan khusus
sebagai ruang terbuka. (gb. 4.8.).
Masalah ruang mati ini dapat dipecahkan atau diubah
menjadi ruang hidup bila dalam suatu perencanaan tapak, bangunan-bangunan
ditentukan Ietaknya dengan sebaik-baiknya, dengan memperhatikan fungsi dan
keseimbangan serta segi estetis.



Struktur dan rang yang
dihubungkan sebaiknya direncanakan dan diperkembangkan bersama-sama sebagai suatu
'perpaduan yang mengandung anti kepadatan dan kekosongan-kekosongan (solid and
void).
2.
Ruang
Terbuka
Ruang Terbuka pada dasamya merupakan suatu wadah
yang dapat menampung kegiatan aktivitas tertentu dari masyarakat balk secara
individu atau secara berkelompok. Bentuk dari ruang terbuka ini sangat
tergantung pads pola dan susunan masse bangunan. Batasan Pola Ruang Umum
terbuka adalah
- Bentuk
dasar daripada ruang terbuka di Iuar bangunan
- Dapat
digunakan oleh publik (setiap orang)
- Memberi
kesempatan untuk macam-macam kegiatan
Contoh ruang terbuka
adalah : jalan, pedestrian, taman, plaza, lapangan terbang, lapangan olah raga.
Gambar 4.9. Plaza
sebagai Ruang Terbuka
v Ruang Terbuka dalam Lingkungan Hidup
Menurut Ian C. Laurit, Ruang-ruang terbuka dalam
lingkungan hidup yaitu Lingkungan alam dan manusia yang dapat dikelompokkan
sebagai berikut :
1. Ruang
terbuka sebagai sumber produksi, antara lain berupa hutan, perkebunan,
pertanian, produksi mineral, peternakan, perairan (reservoir, energi),
perikanan dan sebaginya
2. Ruang
Terbuka sebagai perlindungan terhadap Kekayaan Alam dan Manusia. Misalnya cagar
alam berupa hutan, kehidupan laut/air, daerah budaya dan bersejarah.
3. Ruang
Terbuka untuk Kesehatan, Kesejahteraan dan Kenyamanan, yaitu antara lain :
a. Untuk
melindungi kualitas air tanah
b. Pengaturan,
pembuangan air, sampah dan lain-lain
c. Memperbaiki
dan mempertahankan kualitas udara
d. Rekreasi,
taman Lingkungan, taman kota dan seterusnya.
v Ruang
Terbuka Ditinjau Dari Kegiatannya
Dibagi 2 (dua) jenis
ruang terbuka, yaitu
1. Ruang
terbuka Aktif adalah pang terbuka yang mengundang unsur-unsur kegiatan di
dalamnya, antara lain : bermain, olah raga, upacara, berkomunikasi dan
berjalan-jalan. Ruang ini dapat berupa : Plaza, lapangan olah raga, tempat
bermain, penghijauan di tepi sungai sebagai tempat rekreasi dan lain-lain.
2. Ruang
Terbuka Pasif adalah ruang terbuka yang didalamnya tidak mengandung kegiatan
manusia, antara lain berupa penghijauan / taman sebagai sumber pengudaraan
lingkungan, penghijauan sebagai jarak terhadap rel kereta api dan lain-lain.
v Ruang
Terbuka Ditinjau dari Bentuknya.
Menurut Rob Meyer, Ruang Terbuka (Urban Space)
secara garis besar dapat dibagi menjadi 2 (dua) jenis, yaitu :
1. Berbentuk
memanjang. Umumnya hanya mempunyai batas-batas pada sisi-sisinya, misal :
jalanan, sungai dan lain-lain.
2. Berbentuk
Mencuat. Yang dimaksud dengan bentuk mencuat adalah prang terbuka ini mempunyai
batas-batas di sekelilingnya, misalnya lapangan, bundaran dan lain-lain.
v Ruang
Terbuka Ditinjau dari Sifatnya.
Berdasarkan sifatnya
ada 2 (dua) jenis ruang terbuka, yaitu
1. Ruang
Terbuka Lingkungan adalah prang terbuka yang terdapat pada suatu lingkungan dan
sifatnya umum. Adapun tata penyusunan ruangruang terbuka dan ruang-ruang tertutupnya
akan mempengaruhi keserasian lingkungan.
2. Ruang
Terbuka Bangunan adalah ruang terbuka oleh dinding bangunan dan lantai halaman
bangunan. Ruang terbuka ini bersifat umum atau pribadi sesuai dengan fungsi
bangunannya.
Pada dasamya fungsi dan Ruang terbuka dapat kita
lihat dari 2 (dua) sisi, yaitu baik dari kegunaannya sendiri maupun fungsinya
secara ekologis (berkaitan dengan lingkungannya).
v Fungsi
Ruang Terbuka, sebagai
1. Tempat
bermain dan berolah raga
2. Tempat
bersantai
3. Tempat
Komunikasi Sosial
4. Tempat
peralihan dan menunggu
5. Sebagai
Ruang Terbuka untuk mendapatkan udara segar dengan lingkungan
6. Sebagai
sarana penghubung antara suatu tempat dengan tempat yang lain
7. Sebagai
pembatas/ jarak di antara massa bangunan
v Fungsi
Ruang Terbuka secara Ekologis, sebagai
1. Penyegaran
udara
2. Menyerap
air hujan dan Pengendalian banjir
3. Memelihara
Coosystem tertentu
4. Pelembut
Arsitektur bangunan
Mengaitkan penelitian Lippsmeier (menyatakan pada temperatur
26°C TE umumnya manusia sudah mulai berkeringat serta daya tahan dan kemampuan
kerja manusia mulai menurun) dengan pembagian suhu nyaman orang Indonesia
menurut Yayasan LPMB PU, maka suhu yang kita butuhkan agar dapat beraktifitas
dengan baik adalah suhu nyaman optimal (22,8°C - 25,8°C dengan kelembaban 70%).
Angka ini berada di bawah kondisi suhu udara di Indonesia yang dapat mencapai
angka 35°C dengan kelembaban 80%.
Bagaimana usaha mengendalikan faktor-faktor iklim di atas
untuk memperoleh kenyamanan termal di dalam bangunan?. Cara yang paling mudah
adalah dengan pendekatan mekanis yaitu menggunakan AC tetapi membutuhkan biaya
operasional yang tidak sedikit. Pendekatan kedua adalah mengkondisikan
lingkungan di dalam bangunan secara alami dengan pendekatan arsitektural.
Pengkondisian
lingkungan di dalam bangunan secara arsitektural dapat dilakukan dengan
mempertimbangkan perletakan bangunan (orientasi bangunan terhadap matahari dan
angin), pemanfaatan elemen-elemen arsitektur dan lansekap serta pemakaian
material/bahan bangunan yang sesuai dengan karakter iklim tropis panas lembab.
Melalui ke-empat hal di atas, temperatur di dalam ruangan dapat diturunkan
beberapa derajat tanpa bantuan peralatan mekanis.
Orientasi bangunan terhadap matahari akan menentukan besarnya
radiasi matahari yang diterima bangunan. Semakin luas bidang yang menerima
radiasi matahari secara langsung, semakin besar juga panas yang diterima
bangunan. Dengan demikian, bagian bidang bangunan yang terluas (mis: bangunan
yang bentuknya memanjang) sebaiknya mempunyai orientasi ke arah Utara-Selatan
sehingga sisi bangunan yang pendek, (menghadap Timur – Barat) yang menerima
radiasi matahari langsung.
|

Kecepatan
angin di daerah iklim tropis panas lembab umumnya rendah. Angin dibutuhkan
untuk keperluan ventilasi (untuk kesehatan dan kenyamanan penghuni di dalam
bangunan). Ventilasi adalah proses dimana udara ‘bersih’ (udara luar), masuk
(dengan sengaja) ke dalam ruang dan sekaligus mendorong udara kotor di dalam
ruang ke luar. Ventilasi dibutuhkan untuk keperluan oksigen bagi metabolisme
tubuh, menghalau polusi udara sebagai hasil proses metabolisme tubuh (CO2 dan
bau) dan kegiatan-kegiatan di dalam bangunan. Untuk kenyamanan, ventilasi
berguna dalam proses pendinginan udara dan pencegahan peningkatan kelembaban
udara (khususnya di daerah tropika basah), terutama untuk bangunan rumah
tinggal. Kebutuhan terhadap ventilasi tergantung pada jumlah manusia serta
fungsi bangunan.
Posisi bangunan
yang melintang terhadap angin primer sangat dibutuhkan untuk pendinginan suhu
udara. Jenis, ukuran, dan posisi lobang jendela pada sisi atas dan bawah
bangunan dapat meningkatkan efek ventilasi silang (pergerakan udara) di dalam
ruang sehingga penggantian udara panas di dalam ruang dan peningkatan
kelembaban udara dapat dihindari.
Jarang sekali
terjadi orientasi bangunan yang baik terhadap matahari sekaligus arah angin
primer. Penelitian menunjukkan, jika harus memilih (untuk daerah tropika basah
seperti Indonesia), posisi bangunan yang melintang terhadap arah angin primer
lebih dibutuhkan dari pada perlindungan terhadap radiasi matahari sebab panas
radiasi dapat dihalau oleh angin yang berhembus. Kecepatan angin yang nikmat
dalam ruangan adalah 0,1 – 0,15 m/detik. Besarnya laju aliran udara tergantung
pada:
- Kecepatan
angin bebas
- Arah
angin terhadap lubang ventilasi
- Luas
lubang ventilasi
- Jarak
antara lubang udara masuk dan keluar
- Penghalang
di dalam ruangan yang menghalangi udara
Pola aliran udara yang melewati ruang tergantung pada lokasi inlet
(lobang masuk) udara dan shading devices yang digunakan di bagian
luar. Secara umum, posisi outlet tidak akan mempengaruhi pola aliran
udara. Untuk menambah kecepatan udara terutama pada saat panas, bagian inlet
udara ditempatkan di bagian atas , luas outlet sama atau lebih besar
dari inlet dan tidak ada perabot yang menghalangi gerakan udara di dalam
ruang. Gerakan udara harus diarahkan ke ruang ruang yang membutuhkan atau ruang
keluarga. Penggunaan screen serangga akan mengurangi aliran udara ke
dalam bangunan. Bukaan jendela (Jalousie atau louvered akan
membantu udara langsung ke tempat-tempat yang membutuhkan. Memberi ventilasi
pada ruang antara atap dan langit-langit (khususnya bangunan rendah) sangat
perlu agar tidak terjadi akumulasi panas pada ruang tersebut. Panas yang
terkumpul pada ruang ini akan ditransmisikan ke ruang di bawah langit-langit
tersebut. Ventilasi atap sangat berarti untuk mencapai suhu ruang yang rendah.
- Ruang
lingkup
Pedoman ini
menetapkan tata cara mitigasi dampak kebisingan akibat lalu lintas jalan yang meliputi
penanganan pada sumber kebisingan, jalur perambatan , dan penerima kebisingan. Ketentuan-ketentuan
yang diatur dalam pedoman ini meliputi bahan, dimensi, cara penempatan, dan
prosedur mitigasi. Pedoman ini dimaksudkan sebagai acuan bagi perencana dan
pelaksana lapangan dalam upaya penanggulangan dampak kebisingan yang terjadi
akibat lalu lintas jalan.
- Acuan
normatif
- Undang-undang No. 14/1992,
tentang Lalu lintas dan angkutan jalan
- Undang-undang No. 23 tahun
1997, tentang Pengelolaan lingkungan hidup
- Undang-undang No. 24/1992,
tentang Tata ruang
- Undang-undang No. 38/2004
tentang Jalan
- 036/T/BM/1999, Pedoman
perencanaan teknik bangunan peredam bising
- IEC 651 Standard for Sound
Level Meter
- Pd. T-10-2004-B, Pedoman
prediksi kebisingan akibat lalu lintas
- Istilah
dan definisi
Istilah dan definisi yang digunakan dalam pedoman ini sebagai berikut :
a.
Bangunan peredam bising
(BPB)
Bangunan
berupa penghalang pada jalur perambatan suara dengan bentuk dan bahan tertentu
yang diperuntukan sebagai alat untuk menurunkan tingkat kebisingan yang diakibatkan
lalu lintas kendaraan bermotor.
b.
Dampak Lingkungan
Setiap
perubahan pada lingkungan,apakah merugikan atau menguntungkan, seluruhnya atau sebagian
yang dihasilkan oleh kegiatan, produk atau jasa dari organisasi.
c.
dB(A)
Satuan
tingkat kebisingan (desibel) dalam bobot A, yaitu bobot yang sesuai dengan
respon telinga manusia normal.
d.
insulasi
Efektifitas
suatu benda untuk memantulkan atau mengembalikan suara menuju sumber aslinya.
e.
kebisingan
Bunyi yang kehadirannya dianggap
menganggu pendengaran.
f.
Leq atau Laeq (equivalent
energy level)
Tingkat
kebisingan rata-rata ekivalen selama waktu pengukuran, dinyatakan dalam dB(A).
g.
mitigasi dampak kebisingan
Upaya-upaya
yang dilakukan guna mengurangi sampai menghilangkan dampak negatif yang diperkirakan
akan terjadi dan atau terjadi karena adanya aktivitas lalu lintas.
h.
penyerapan suara atau sound
absorption
Penurunan intensitas
energi gelombang suara karena adanya pemantulan, interferensi frekuensi, dan
gejala lain yang terjadi ketika gelombang menembus suatu bahan penghalang.
i.
sumber bising
Sumber bunyi
yang kehadirannya dianggap mengganggu pendengaran baik dari sumber bergerak
maupun tidak bergerak.
j.
tingkat kebisingan
Ukuran tinggi rendahnya kebisingan
yang dinyatakan dalam satuan dB(A).
k.
tingkat reduksi kebisingan
atau Insertion Loss (IL)
Efektifitas
suatu bahan penghalang untuk mengurangi tingkat kebisingan dengan memantulkan
dan menyerap energi gelombang suara.
l.
zona bayang-bayang atau shadow
zone
Daerah yang
ada di bagian belakang penghalang kebisingan yang bagian atasnya dibatasi oleh
garis perambatan gelombang suara yang terbelokkan oleh bagian atas penghalang. Daerah
ini merupakan daerah pengaruh efektif suatu penghalang kebisingan. Keputusan
Menteri Lingkungan Hidup no. Kep-48/MENLH/11/ 1996 menetapkan baku tingkat
kebisingan untuk kawasan tertentu sesuai Tabel 4.1. Baku tingkat kebisingan ini
diukur berdasarkan rata-rata pengukuran tingkat kebisingan ekivalen (Leq).
NO
|
Peruntukan Kawasan/ Lingkungan Kegiatan
|
Tingkat Kebisingan
dB(A)
|
1
2
|
Peruntukan Kawasan 1.
Perumahan dan Permukiman
2. Perdagangan dan Jasa
3. Perkantoran dan perdagangan
4. Ruangan Terbuka Hijau
5. Industri
6. Pemerintahan dan Fasilitas Umum
7. Rekreasi
8. Khusus:
- Bandar Udara
- Stasiun Kereta Api
- Pelabuhan Laut
- Cagar Budaya
Lingkungan Kegiatan
1. Rumah Sakit atau sejenisnya
2. Sekolah atau sejenisnya
3. Tempat Ibadah atau sejenis
|
55
70
65
50
70
60
70
60
-
-
70
60
55
55
55
|

Kolom adalah batang tekan vertikal dari rangka
struktur yang memikul beban dari balok. Kolom merupakan suatu elemen struktur
tekan yang memegang peranan penting dari suatu bangunan, sehingga keruntuhan
pada suatu kolom merupakan lokasi kritis yang dapat menyebabkan runtuhnya
(collapse) lantai yang bersangkutan dan juga runtuh total (total collapse)
seluruh struktur (Sudarmoko, 1996). SK SNI T-15-1991-03 mendefinisikan kolom
adalah komponen struktur bangunan yang tugas utamanya menyangga beban aksial
tekan vertikal dengan bagian tinggi yang tidak ditopang paling tidak tiga kali
dimensi lateral terkecil.
Fungsi kolom adalah sebagai penerus beban seluruh
bangunan ke pondasi. Bila diumpamakan, kolom itu seperti rangka tubuh manusia
yang memastikan sebuah bangunan berdiri. Kolom termasuk struktur utama untuk
meneruskan berat bangunan dan beban lain seperti beban hidup (manusia dan
barang-barang), serta beban hembusan angin. Kolom berfungsi sangat penting,
agar bangunan tidak mudah roboh. Beban sebuah bangunan dimulai dari atap. Beban
atap akan meneruskan beban yang diterimanya ke kolom. Seluruh beban yang
diterima kolom didistribusikan ke permukaan tanah di bawahnya. Kesimpulannya,
sebuah bangunan akan aman dari kerusakan bila besar dan jenis pondasinya
sesuai dengan perhitungan. Namun, kondisi tanah pun harus benar-benar sudah
mampu menerima beban dari pondasi. Kolom menerima beban dan meneruskannya ke
pondasi, karena itu pondasinya juga harus kuat, terutama untuk konstruksi rumah
bertingkat, harus diperiksa kedalaman tanah kerasnya agar bila tanah ambles
atau terjadi gempa tidak mudah roboh.
Struktur dalam kolom dibuat dari besi dan beton.
Keduanya merupakan gabungan antara material yang tahan tarikan dan tekanan.
Besi adalah material yang tahan tarikan, sedangkan beton adalah material yang
tahan tekanan. Gabungan kedua material ini dalam struktur beton memungkinkan
kolom atau bagian struktural lain seperti sloof dan balok bisa menahan gaya
tekan dan gaya tarik pada bangunan.
Jenis-jenis kolom menurut Wang (1986) dan Ferguson
(1986) jenis-jenis kolom ada tiga:
- Kolom ikat (tie column)
- Kolom spiral (spiral column)
- Kolom komposit (composite column)
Dalam buku struktur beton bertulang (Istimawan
dipohusodo, 1994) ada tiga jenis kolom beton bertulang yaitu :
1.
Kolom menggunakan pengikat sengkang lateral. Kolom ini
merupakan kolom brton yang ditulangi dengan batang tulangan pokok memanjang,
yang pada jarak spasi tertentu diikat dengan pengikat sengkang ke arah lateral.
Tulangan ini berfungsi untuk memegang tulangan pokok memanjang agar tetap kokoh
pada tempatnya. Terlihat dalam gambar 1.(a).
2.
Kolom menggunakan pengikat spiral. Bentuknya sama
dengan yang pertama hanya saja sebagai pengikat tulangan pokok memanjang adalah
tulangan spiral yang dililitkan keliling membentuk heliks menerus di sepanjang
kolom. Fungsi dari tulangan spiral adalah memberi kemampuan kolom untuk
menyerap deformasi cukup besar sebelum runtuh, sehingga mampu mencegah
terjadinya kehancuran seluruh struktur sebelum proses redistribusi momen dan
tegangan terwujud. Seperti pada gambar 1.(b).
3.
Struktur kolom komposit seperti tampak pada gambar
1.(c). Merupakan komponen struktur tekan yang diperkuat pada arah memanjang
dengan gelagar baja profil atau pipa, dengan atau tanpa diberi batang tulangan pokok
memanjang.

Hasil berbagai eksperimen
menunjukkan bahwa kolom berpengikat spiral ternyata lebih tangguh daripada yang
menggunakan tulangan sengkang, seperti yang terlihat pada diagram di bawah ini.
Untuk kolom pada bangunan sederhan bentuk kolom ada
dua jenis yaitu kolom utama dan kolom praktis.
Yang dimaksud dengan kolom utama adalah kolom yang
fungsi utamanya menyanggah beban utama yang berada diatasnya. Untuk rumah
tinggal disarankan jarak kolom utama adalah 3.5 m, agar dimensi balok untuk
menompang lantai tidak tidak begitu besar, dan apabila jarak antara kolom
dibuat lebih dari 3.5 meter, maka struktur bangunan harus dihitung. Sedangkan
dimensi kolom utama untuk bangunan rumah tinggal lantai 2 biasanya dipakai
ukuran 20/20, dengan tulangan pokok 8d12mm, dan begel d 8-10cm ( 8 d 12
maksudnya jumlah besi beton diameter 12mm 8 buah, 8 – 10 cm maksudnya begel
diameter 8 dengan jarak 10 cm).

Adalah kolom yang berpungsi membantu kolom utama dan
juga sebagai pengikat dinding agar dinding stabil, jarak kolom maksimum 3,5
meter, atau pada pertemuan pasangan bata, (sudut-sudut). Dimensi kolom praktis
15/15 dengan tulangan beton 4 d 10 begel d 8-20.
Letak kolom dalam konstruksi. Kolom portal harus
dibuat terus menerus dari lantai bawah sampai lantai atas, artinya letak
kolom-kolom portal tidak boleh digeser pada tiap lantai, karena hal ini akan
menghilangkan sifat kekakuan dari struktur rangka portalnya. Jadi harus
dihindarkan denah kolom portal yang tidak sama untuk tiap-tiap lapis lantai.
Ukuran kolom makin ke atas boleh makin kecil, sesuai dengan beban bangunan yang
didukungnya makin ke atas juga makin kecil.
Perubahan dimensi kolom harus dilakukan pada lapis
lantai, agar pada suatu lajur kolom mempunyai kekakuan yang sama. Prinsip
penerusan gaya pada kolom pondasi adalah balok portal merangkai kolom-kolom
menjadi satu kesatuan. Balok menerima seluruh beban dari plat lantai dan
meneruskan ke kolom-kolom pendukung. Hubungan balok dan kolom adalah
jepit-jepit, yaitu suatu sistem dukungan yang dapat menahan momen, gaya
vertikal dan gaya horisontal.
Untuk menambah kekakuan balok, di bagian pangkal
pada pertemuan dengan kolom, boleh ditambah tebalnya. III. Dasar- dasar
Perhitungan
Menurut SNI-03-2847-2002 ada empat ketentuen terkait perhitungan kolom:
Menurut SNI-03-2847-2002 ada empat ketentuen terkait perhitungan kolom:
- Kolom harus direncanakan untuk memikul beban
aksial terfaktor yang bekerja pada semua lantai atau atap dan momen
maksimum yang berasal dari beban terfaktor pada satu bentang terdekat dari
lantai atau atap yang ditinjau. Kombinasi pembebanan yang menghasilkan
rasio maksimum dari momen terhadap beban aksial juga harus diperhitungkan.
- Pada konstruksi rangka atau struktur menerus
pengaruh dari adanya beban tak seimbang pada lantai atau atap terhadap
kolom luar atau dalam harus diperhitungkan. Demilkian pula pengaruh dari
beban eksentris karena sebab lainnya juga harus diperhitungkan.
- Dalam menghitung momen akibat beban gravitasi
yang bekerja pada kolom, ujung-ujung terjauh kolom dapat dianggap jepit,
selama ujung-ujung tersebut menyatu (monolit) dengan komponen struktur
lainnya.
- Momen-momen yang bekerja pada setiap level lantai
atau atap harus didistribusikan pada kolom di atas dan di bawah lantai
tersebut berdasarkan kekakuan relative kolom dengan juga memperhatikan
kondisi kekekangan pada ujung kolom.
Adapun dasar-dasar perhitungannya sebagai berikut:
- Kuat perlu
- Kuat rancang
- Kondisi Faktor reduksi (ø)
- Lentur tanpa beban aksial 0.8
- Aksial tarik dan aksial tarik dengan lentur 0.8
- Aksial tekan dan aksial tekan dengan lentur
- Tulangan spiral maupun sengkang ikat
- Sengkang biasa: 0.7, 0.65
Asumsi
Perencanaan

Referensi:
Sumber buku Anonim. 2002. Standar Nasional Indonesia
Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. Bandung: Beta
Version.
Dipohusodo, istimawan.1994. Struktur Beton Bertulang. Jakarta: Gramedia pustaka utama. Pamudji, Ganjar, dkk. 2004. Diktat Kuliah Struktur Beton II Universitas Jenderal Soedirman.
Dipohusodo, istimawan.1994. Struktur Beton Bertulang. Jakarta: Gramedia pustaka utama. Pamudji, Ganjar, dkk. 2004. Diktat Kuliah Struktur Beton II Universitas Jenderal Soedirman.
Perencanaan sebuah bangunan lantai dua yang sesederhana mungkin dengan
penggunaan bahan bangunan/material yang ramah lingkungan untuk mengurangi
dampak dari pemanasan global. Pembuatan bangunan dari bawah (pondasi) sampai
atap dengan menggunakan konstruksi yang sederhana, ramah lingkungan, dan cepat
untuk dikerjakan, seperti dalam pembuatan pondasi menggunakan pondasi foot
plate 1PC : 2PS : 3KR, pondasi foot plate ini untuk menerima beban lantai
dua dan bentang bangunan yang lebar karena sesuai dengan konsep kami, dan
pondasi batu kali 1PC : 3KP : 10PS untuk pondasi teras dan lainnya yang
menerima beban lantai satu.
1).
Lantai
Pembutan lantai khusus untuk carport menggunakan paving blok.
Untuk lantai dapur, lantai teras, lantai kamar mandi/WC, dan lantai tangga
menggunakan lantai artifisial. Lantai artifisial adalah lantai yang di
hamparkan PC kemudian kita taburi batu – batuan alam atau batu bronjol
dengan itu kita tidak perlu menambang batu alam. Karena ini merupakan konsep
ramah lingkungan. Pada lantai tamu, lantai keluarga dan kamar tidur kami masih
menggunakan keramik yang ramah lingkungan.
2).
Dinding
Pembuatan dinding menggunakan pasangan batu bata, tidak lupa mengunakan
campuran trasram / kedap air dari lapisan pertama sampai kurang lebih 20
cm. Untuk menghindari air yang meresap ke dinding yang mengakibatkan tumbuhnya
benih mikroba dan spora karena terlalu lembab yang kemudian
terjadi kerusakan pada dinding yang tidak tahan lama terhadap air. Untuk
mengurangi terjadi hampa udara dan cahaya pembutan ventilasi pada bangunan kami
optimalkan dalam konsep green building. Pewarnaan tembok menggunakan cat tembok
yang menggunakan bahan alami.
3).
Plafond dan Atap
Atap merupakan bagian dari bangunan gedung (rumah) yang letaknya berada
dibagian paling atas, sehingga untuk perencanaannya atap ini haruslah diperhitungkan
dan harus mendapat perhatian yang khusus dari si perencana (arsitek). Karena
dilihat dari penampakannya ataplah yang paling pertama kali terlihat oleh
pandangan setiap yang memperhatikannya. Untuk itu dalam merencanakan bentuk
atap harus mempunyai daya arstistik. Bisa juga dikatakan bahwa atap merupakan
mahkota dari suatu bangunan rumah. Atap sebagai penutup seluruh ruangan yang
ada di bawahnya, sehingga akan terlindung dari panas, hujan, angin dan binatang
buas serta keamanan.
Atap merupakan bagian dari struktur bangunan yng berfungsi sebagai
penutup/pelindung bangunan dari panas terik matahari dan hujan sehingga
memberikan kenyamanan bagi penggunan bangunan.
Struktur atap pada umumnya terdiri dari tiga bagian utama yaitu : struktur
penutup atap, gording dan rangka kuda-kuda. Penutup atap akan didukung oleh
struktur rangka atap, yang terdiri dari kuda-kuda, gording, usuk dan reng.
Beban-beban atap akan diteruskan ke dalam fondasi melalui kolom dan atau balok.
Konstruksi atap yang baik memungkinkan terjadinya sirkulasi udara dengan
baik. Sudah sewajarnya setiap rumah dilengkapi dengan atap. Atap rumah
merupakan bagian dari bangunan yang befungsi sebagai penutup atau pelindung
bangunan dari panas terik matahari dan hujan, sehingga memberikan kenyamanan
bagi pengguna bangunan.
Tiga komponen penyusun atap:
- struktur
atap (rangka atap dan penopang rangka atap);
- penutup
atap (genteng,polikarbonat);
- pelengkap
atap (talang horizontal/vertikal dan lisplang)
- Rangka Atap Baja Ringan
Pemakaian Rangka Atap Baja Ringan untuk atap rumah sebagai pengganti kayu
saat ini semakin popular.Secara tinjaun mekanika teknik, rangka atap baja
ringan adalah suatu struktur yang tidak bisa dirancang dan dibangun asal asalan
tanpa hitungan dan desain teknis tertentu. Kegagalan struktur kemungkinan akan
terjadi bila desain dan perhitungan teknis diabaikan
a)
Sistem rangka atap baja ringan.
Konsep rangka merupakan satu unit kesatuan sistem terintegrasi secara
struktural. Sehingga dibutuhkan hitungan atau desain yang secara mekanika
teknis mampu mampu mengakomodir kebutuhan sistem tersebut. Rangka baja atap
ringan ini terbuat dari bahan dasar baja yang dilapisi oleh seng atau
aluminium. Property mekanika teknis idealnya tidak kurang dari 550 Mpa.
b)
Bahan pelapis yang digunakan untuk Rangka Baja Atap
Ringan, yakni Zinc (seng) dan aluminium.
Pelapis aluminium mempunyai sifat tahan karat yang lebih bagus dibanding
pelapis seng, dimana pelapisan dengan seng oleh masyarakat umum sering disebut
galvanis. Bahan pelapis baja galvanis harus jauh lebih tebal untuk menyamai
ketahanan karat yang sama terhadap bahan pelapis Aluminium. Mutu pelapis
aluminium mempunyai ketahanan karat 4x lebih lama bila dibandingkan dengan
pelapis seng untuk ketebalan yang sama.
c)
Tidak semua rangka baja atap ringan dipasaran telah
mempunyai sistem atau spesifikasi dan uji lab.
d)
Properti atau sifat mekanika teknis Rangka Atap baja
ringan
Rangka baja ringan sangat tipis kurang dari 1mm bila dibandingkan dengan
baja biasa, tujuannya untuk memudahkan dalam perakitan dan konstruksi, tetapi
properti kekuatan tariknya cukup tinggi 550 Mpa.
Struktur Rangka atap baja ringan terdiri dari kuda-kuda, reng, sekrup dan
jurai dalam untuk mencegah tampias. Dimana kuda kuda merupakan struktur utama
dalam konstruksi atap baja ringan. Untuk mendapatkan kuda-kuda yang kokoh,
cermati lebar bentangan dan besar beban yang akan diterima,demikian pula dengan
derajat kemiringan atap. Dimana besar beban terdiri dari beban rangka sendiri,
beban genting yang digunakan, dan beban angin. Ketebalan material baja ringan
untuk kuda-kuda dan web berkisar 0,7-1 mm. Sementara untuk reng sekitar 0,4-0,7
mm.
1).
Kelebihan dan kekurangan
Rangka Atap Baja Ringan
a)
Kelebihan Rangka Atap Baja
Ringan
- Beban
yang ditanggung oleh struktur dibawahnya lebih rendah, karena rangka baja
ini secara keseluruhan lebih rendah dari rangka kayu.
- Bila
terjadi kebakaran maka rangka baja bersifat tidak membesarkan api
dibandingkan dengan kayu.
- Rayap
atau hewan pemakan kayu lainnya buka lagi merupakan ancaman bagi rangka
baja.
- Baja relatif
tidak mengalami penyusutan atau perubahan bentuk lainnya dibandingkan
dengan kayu.
- Ramah
lingkungan. Pemakaian baja sebagai pengganti kayu maka akan mengurangi
penggundulan hutan atau penebangan pohon.
- Lebih
mengutamakan struktur dengan sistem plat Buhul di setiap tumpuan sendi
(seperti jembatan) lebih kokoh dari kuda-kuda baja lainnya.
- Konstruksi
atap baja stabil dan aman
- Menggunakan
tumpuan sendi dan roll
- Prefabrikasi
perkomponen
- Atap
baja Tahan terhadap karat, rayap dan perubahan cuaca dan kelembaban
- Atap
baja Bisa dipakai dengan genteng metal maupun keramik atau beton yang
berat
- Atap
baja Dirancang stabil terhadap tekuk, puntir serta muai/mulur
Utilitas yang baik dapat membuat suatu perencanaan
dapat terwujud dengan baik dari menerima segala permasalahan dan aktifitas yang
terjadi pada gedung. Konsep utilitas yang akan digunakan pada Bangunan Shoping
Mall di Bireuen adalah
- Air
bersih berasal dari PDAM, dengan metode pemasokan air down feed.
- Penanggulanga
kebakaran menggunakan :
~
Hidran : kotak, halaman, dan kota
~
Sprinkler : susunan cabang ganda dengan
tiga kepala sprinkler dan pemasokan air di ujung
~
Detektor : asap, api, dan panas
~
Tangga darurat
- Sumber
listrik dari PLN dan sumber cadangan dari generator / genset.
- Telekomonikasi
: telepon dari Telkom, jaringan data, LAN, Internet.
- Sistem
tata suara : berfungsi untuk alarm, media informasi dan sebagainya.
- Sistem
otomatisasi bangunan : telekomonikasi, jaringan data, dan jaringan jarak
jauh.
- Pengelolaan
sampang menggunakan sistem pemisahan sampah organik dan no organik,
ditampung pada tong penampungan dan kemudian pada bak penampungan,
- Pencahayaan
menggunakan cahaya alami dan buatan, sebagaimana di jelaskan pada konsep
pencahayaan.
- Penghawaan
mengunakan penghawaan alami dan penghawaan buatan, sebagaimana dijelasakan
pada konsep penghawaan.
- Keamanan
: menggunakan CCTV pengontrol keamanan dari maling dan hal – hal yang tak
terduga yang dapat menjadi permasalahan pada bangunan.
LINK DOWNLOAD
https://docs.google.com/document/d/1K4exYJ5Bph7HFnIjbEv4TGrY5Ww8Z9Bb5r01NuU8muI/edit?usp=sharing
https://docs.google.com/document/d/1K4exYJ5Bph7HFnIjbEv4TGrY5Ww8Z9Bb5r01NuU8muI/edit?usp=sharing




0 Comments